

mengajarmerdeka.id – Implementasi Kurikulum Merdeka di jenjang SMP, khususnya pada mata pelajaran Seni Rupa kelas 9, menitikberatkan pada kebebasan ekspresi dan penguatan profil pelajar Pancasila. Salah satu instrumen vital yang harus dipersiapkan oleh tenaga pendidik adalah Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).
Di platform Mengajar Merdeka, kami memahami bahwa menyusun ATP bukan sekadar urusan administratif, melainkan strategi untuk memetakan perjalanan kreatif siswa selama satu tahun pelajaran.
Fase D, yang mencakup kelas 7 hingga 9, merupakan masa transisi di mana siswa mulai mencari identitas diri melalui karya visual.
Pada kelas 9, fokus utama bergeser dari sekadar pengenalan teknik dasar menuju pada kemampuan analisis, kritis, dan penciptaan karya yang memiliki makna personal maupun sosial. Seni rupa tidak lagi dilihat sebagai hobi semata, melainkan alat komunikasi yang sangat ampuh.
ATP yang disusun harus mencerminkan lima elemen utama dalam Capaian Pembelajaran (CP) Seni Rupa, yaitu: Mengalami, Menciptakan, Merefleksikan, Berpikir dan Bekerja Artistik, serta Berdampak. Kelima elemen ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling beririsan dalam setiap proyek seni yang dilakukan siswa di dalam kelas.
Dalam menyusun alur pembelajaran yang segar dan relevan, Bapak/Ibu guru perlu memperhatikan kesinambungan antar materi. Berikut adalah breakdown strategis yang bisa diadaptasi ke dalam dokumen ATP di sekolah Anda:
1. Eksplorasi Media dan Teknik Lanjutan
Siswa kelas 9 diharapkan tidak lagi canggung dengan alat gambar atau alat lukis. Alur dimulai dengan pendalaman teknik yang lebih kompleks, seperti teknik campuran (mixed media), seni grafis sederhana (cetak tinggi atau cetak saring), hingga pemanfaatan teknologi digital dalam berkarya.
Hal ini bertujuan agar siswa memiliki “kosakata” visual yang lebih luas sebelum mereka mengekspresikan ide yang lebih dalam.
2. Observasi dan Pengamatan Lingkungan
Seni rupa yang baik berakar dari kepekaan terhadap sekitar. Dalam ATP, selipkan agenda di mana siswa melakukan observasi terhadap isu-isu sosial atau lingkungan di sekitar sekolah.
Hasil observasi ini akan menjadi bahan baku utama dalam pembuatan sketsa dan konsep karya. Ini adalah penerapan nyata dari elemen “Mengalami”.
3. Tahap Penciptaan (Produksi Karya)
Ini adalah inti dari pembelajaran. Namun, dalam Kurikulum Merdeka, proses lebih dihargai daripada hasil akhir yang estetik semata.
Siswa diajak untuk melakukan eksperimen, mengalami kegagalan, dan melakukan perbaikan (trial and error). Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan teknik tanpa membatasi imajinasi.
4. Refleksi dan Apresiasi Seni
Setelah karya selesai, alur harus mengarahkan siswa untuk mampu mempresentasikan karyanya. Mereka belajar menjelaskan mengapa memilih warna tertentu, apa makna di balik simbol yang digunakan, dan bagaimana perasaan mereka saat proses pembuatan.
Selain itu, apresiasi terhadap karya teman sejawat menjadi poin penting untuk menumbuhkan sikap toleransi dan berpikir kritis.
Mengapa ATP di website Mengajar Merdeka berbeda? Karena kami mendorong guru untuk memasukkan unsur kekinian. Untuk kelas 9 SMP, isu-isu seperti kelestarian lingkungan (Eco-Art) atau kritik sosial melalui desain poster sangatlah relevan.
Siswa di usia ini sedang aktif-aktifnya menggunakan media sosial, sehingga mengajarkan mereka cara membuat konten visual yang beretika dan artistik adalah bagian dari tanggung jawab guru seni rupa.
Misalnya, salah satu tujuan pembelajaran dalam ATP bisa berupa: “Peserta didik mampu menciptakan karya seni rupa dua dimensi yang merespons isu sampah plastik di lingkungan sekolah menggunakan teknik kolase.” Dengan tujuan yang spesifik seperti ini, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berdampak langsung.
Pelajari juga: Perangkat Ajar Deep Learning Seni Rupa Kelas 9 SMP/MTs Kurikulum Merdeka
Jangan lupakan aspek digital. Meskipun Seni Rupa identik dengan kuas dan kertas, menyisipkan pemanfaatan aplikasi desain sederhana atau fotografi smartphone ke dalam ATP akan sangat menarik minat siswa.
Ini membantu siswa memahami bahwa seni rupa berkembang seiring zaman dan membuka wawasan mereka tentang peluang karier di masa depan, seperti desainer grafis, ilustrator, atau animator.
Sebuah ATP dikatakan efektif jika memenuhi kriteria berikut:
Sistematis dan Logis
Urutan pembelajaran dimulai dari yang mudah ke yang sulit, serta dari yang konkret ke yang abstrak. Jangan memaksakan siswa membuat pameran besar jika dasar-dasar manajemen seni belum diajarkan di awal semester.
Adaptif dan Fleksibel
Kurikulum Merdeka memberikan ruang bagi guru untuk menyesuaikan materi dengan fasilitas sekolah. Jika sekolah berada di daerah pesisir, gunakan material alam seperti kerang atau pasir sebagai media berkarya. ATP harus bisa “bernapas” sesuai kondisi lokal.
Berpusat pada Peserta Didik
Pastikan setiap tujuan pembelajaran memberikan ruang bagi siswa untuk mengambil keputusan. Guru memberikan tantangan (challenge), dan siswa mencari solusinya melalui karya seni.
Salah satu inovasi dalam ATP Seni Rupa kelas 9 adalah penggunaan Jurnal Visual atau Sktechbook. Alur pembelajaran harus memastikan siswa rajin mendokumentasikan setiap coretan ide, referensi gambar dari internet, hingga catatan kecil tentang kesulitan yang dihadapi.
Jurnal ini akan menjadi bukti autentik dalam penilaian formatif dan mempermudah guru melihat perkembangan kemampuan berpikir artistik siswa dari awal hingga akhir semester.
ATP Seni Rupa Kelas 9 SMP/MTs
Dengan menyusun ATP yang komprehensif, guru Seni Rupa tidak hanya mengajar cara menggambar, tetapi sedang membentuk karakter manusia yang kreatif, solutif, dan memiliki empati tinggi. Platform Mengajar Merdeka berkomitmen untuk terus menyediakan referensi dan inspirasi bagi Bapak/Ibu guru dalam menyusun perangkat ajar yang berkualitas.
Mari kita jadikan kelas Seni Rupa sebagai laboratorium kreativitas yang menyenangkan. Dengan alur yang jelas, tujuan yang terukur, dan semangat merdeka belajar, potensi seni dari setiap siswa kelas 9 SMP/MTs akan berkembang secara maksimal. Pastikan Anda selalu memperbarui referensi ATP Anda agar tetap selaras dengan perkembangan zaman dan kebutuhan peserta didik di era transformasi pendidikan ini.
Gunakanlah draf pemikiran ini sebagai pondasi utama dalam mengembangkan dokumen kurikulum di satuan pendidikan masing-masing. Kreativitas tidak memiliki batas, begitu pula dengan cara kita mengajar. Selamat berkarya dan menginspirasi anak bangsa melalui seni rupa!